|
PT. Natura Lintas
Buana
Jasa & Pelayanan di bidang Recruitment, Man Power Supply dan
Outsourcing
Hubungi kami di (021) 7535441
|

|
Tempayan Retak
Seorang tukang air India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung
pada kedua ujung suatu pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari
tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan
yang utuh itu selalu dapat membawa air penuh, setelah perjalanan panjang dari
mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air
setengah penuh. |
 |
|
|
Selama dua tahun hal itu terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa
satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang utuh
merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.
Namun, si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan
ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberi setengah dari
porsi yang seharusnya dapat diberikannnya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata
pada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin
mohon maaf kepadamu."
"Kenapa?" tanya si tukang air, "Kenapa kamu merasa malu?"
"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang
seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya yang membuat air
yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku
itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya,
ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu
memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru
menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu
membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih
karena separo air yang dibawanya telah bocor, dan kembali dia minta maaf pada si
tukang air atas kegagalannya.
Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya
bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tetapi tidak ada bunga di sepanjang
jalan di sisi tempayan yang lain yang utuh. Itu karena aku selalu menyadari akan
cacatmu dan aku memanfaatkannya.
Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap
hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu.
Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk
menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak
akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."
Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah
tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita
untuk menghias-Nya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tidak ada yang terbuang
percuma. Jangan takut akan kekuranganmu.
Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.
Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.
Seseorang disebut sebagai orang yang sukses jika ia bisa tetap hidup dan
menikmati kesuksesannya dengan rasa bersyukur.
|
 |